Senin, 18 Juli 2011

PEMBINAAN KARAKTER


Pembinaan karakter kini memang menjadi suatu yang krisis. Hampir setiap orang sulit sekali untuk mempertahankan karakter aslinya. Pada umumnya banyak di antara kita begitu gampang berubah. Sedikit saja mendapat pengaruh dari luar, maka faktor internalnya menjadi berubah. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan. Jika sudah seperti ini, kiranya menjadi sulit untuk menyebarkan suatu kebaikan jika kita sendiri tidak memiliki pendirian yang tangguh.
Ada beberapa hal yang menyebabkan karakter seseorang itu menjadi gampang berubah, walaupun misalkan ibadah orang tersebut sangat baik, hubungan dengan sesama manusia juga baik, tetapi sering kali orang tersebut merasakan dirinya sangat lemah. Orang itu merasakan bahwa dirinya sangat lemah (tidak kuat) menghadapi suatu perubahan. Jika situasi sosial berubah, maka dirinya juga menjadi terpengaruh akan perubahan tersebut. Bahkan, perubahan cuaca pun kadang ikut mempengaruhi orang tersebut.
Ada lima karakter yang pada umumnya sering mempengaruhi pandangan hidup manusia, yaitu: karena rasa bersalah, rasa dendam, rasa takut, materi, dan pengakuan diri.
Pertama, seseorang berubah karena rasa bersalahnya (terpengaruh oleh rasa bersalahnya).
Ciri-cirinya adalah: jika ia telah melakukan dosa, apalagi dosa yang dilakukannya itu adalah dosa besar, maka ia seperti dikejar dan dihantui oleh perasaan bersalahnya. Perasaan berdosa ini biasanya membuat seseorang dalam bertindak menjadi sangat kaku, bahkan hidupnya cenderung pasrah, tidak ada semangat, dan tidak ada kreativitas.
Jangan pernah memandang enteng dosa, karena dosa bisa membuat seseorang itu menjadi tidak produktif, tidak kreatif, jalan pikirannya buntu, dan kehilangan semangat hidup. Karena itu, semua perbuatan dosa dilarang oleh Allah. Dosa itu bisa dipahami melalui pikiran, melalui kata hati, dan melalui firman Tuhan dan hadits Rasulullah. Walaupun kita tidak pernah membaca Al-Qur’an atau Hadits sekalipun, tetapi kita tetap bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan itu bertentangan dengan nilai kebenaran. Misalkan perbuatan zina, mencuri, ataupun membunuh, tanpa kita membaca ayat Al-Qur’an pun, kita bisa mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak benar. Sehingga, jika perbuatan dosa tersebut kita lakukan, maka pasti ada sesuatu yang salah di dalam diri kita. Perasaan bersalah ini tak mungkin akan hilang jika tanpa adanya penyadaran diri (taubat). Dosa tidak akan membuat seseorang itu produktif di dalam perjalanan hidupnya.
Kedua, seseorang berubah karena rasa dendamnya. Rasa dendamnya itu mempengaruhinya dalam setiap mengampil keputusan ataupun kesimpulan.
Orang seperti ini ciri-cirinya adalah nekat. Ia selalu melihat objek yang didendaminya itu seperti iblis. Dia pernah sakit hati terhadap sesuatu, karena itu ia dendam. Terhadap orang yang didendaminya itu, kiranya tak ada positifnya sekalipun. Maka kehidupan yang dilaluinya selalu penuh dengan benci, marah, dan dendam. Orang seperti ini takkan pernah bisa produktif. Jika ada orang yang bekerja karena dimotivasi oleh dendam, yakinlah maka rekan kerjanya akan gerah, apalagi malaikat.
Jangan pernah kita didikte atau mengambil suatu keputusan karena dimotivasi oleh perasaan dendam. Dendam ini dilarang oleh Allah, karena dendam itulah nantinya yang akan membakar energi orang tersebut. Ia akan loyo, akan jatuh sakit, dan juga akan hilang segala-galanya. Mengapa? Karena dendam di dalam dirinya itulah yang membuat orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.
Bagi orang yang menyimpan rasa dendam yang sangat mendalam, maka segala yang dilakukannya sehari-hari selalu tidak enak, seakan-akan setiap saat selalu penuh dengan wajah orang yang didendaminya itu. Bahkan mungkin ketika ia tidur dan bermimpi. Bahayanya, jika seseorang yang mengambil kesimpulan dan keputusan karena dimotivasi oleh dendam, maka kesimpulan dan keputusan yang dihasilkan tersebut akan sangat riskan.
Orang seperti ini biasanya agresif, dan menganggap orang yang didendaminya itu seperti setan. Ia anarkis dan destruktif. Jika konstruktif adalah bersifat permanen dan positif, maka destruktif lebih cenderung goyah dan meruntuhkan (menghancurkan). Karena itu, jangan pernah kita didikte di dalam mengambil suatu keputusan dengan perasaan dendam. Akibatnya bukan hanya kita yang merasakannya, bahkan keluarga dan orang yang ada di sekitar kita akan merasakan dampaknya.
Ketiga, dipengaruhi oleh rasa takut. Apapun keputusannya, selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya.
Orang seperti ini biasanya penakut, misalkan takut terhadap hujan lebat sehingga badannya akan bergetar, bukan karena kedinginan, tetapi karena takut. Mendengar halilintar ia menjadi takut. Mendengarkan orang berteriak saja, maka jantungnya akan berdebar-debar. Orang seperti ini biasanya pernah mengalami trauma, dan traumanya itu tidak terselesaikan. Sehingga di dalam bertindak, ia akan selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya itu. Orang seperti ini cenderung menjadi statis, tidak mau mengambil resiko, yang akhirnya orang ini menjadi kerdil. Orang seperti ini juga biasanya sering keliru dalam mengambil suatu tindakan. Jika kita terlalu didikte oleh perasaan takut, maka kita tidak bisa berbuat secara normal.
Keempat, terpengaruh karena materi atau kedudukan atau pangkatnya.
Orang seperti ini biasanya kelihatan egois. Sepertinya hanya dialah yang paling hebat. Tindakan-tindakan seperti ini cenderung juga menimbulkan kerugian terhadap dirinya sendiri, bahkan juga terhadap orang lain. Karena itu, jika kita mendapakan rezeki dari Allah, baik itu berupa materi (harta) atau dalam bentuk jabatan (kedudukan), maka jangan sampai materi dan jabatan tersebut membuat kita terpengaruh dalam mengambil suatu tindakan.
Ciri-ciri orang yang seperti ini, yaitu tidak ada lagi orang yang mampu mengerem pembicaraannya. Juga terlihat di dalam perbuatannya, seakan-akan dialah yang paling hebat. Selain itu juga dalam bentuk kebijakan, misalkan bahwa kebijakannya itu selalu diarahkan pada dirinya sendiri. Orang seperti ini cenderung tidak demokratis. Orang seperti ini biasanya menempuh kehidupan yang serba gampang, tidak ingin repot, dan kurang hati-hati. Mengapa? Karena kekuasaan ada di tangannya, yang ini bisa merugikan dirinya dan juga orang lain.
Kelima, terpengaruh karena pengakuan atas dirinya sendiri (aktualisasi diri).
Karena ingin mengaktualisasi dirinya tersebut di dalam masyarakat, sehingga ia tak pernah mempedulikan seberapa besarpun pengorbanan yang telah dan akan ia berikan, demi popularitas, yang penting dirinya terkenal.
Kelima karakter ini tidak sejalan dengan tuntunan di dalam Agama Islam. Misalkan orang yang bekerja dengan penuh rasa berdosa, maka ia akan seperti orang yang linglung, tidak pernah fokus, tak pernah ada semangat di dalam bekerja, karena ada kerusakan di dalam sistem batinnya. Karena itu, kita dilarang untuk melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak dosa yang kita lakukan, maka kita akan semakin tidak fokus, karena ada kerusakan di dalam sistem batin kita. Sebaliknya, jika tidak ada salah yang kita lakukan, sekalipun pangkat kita rendah, sekalipun kita rakyat biasa, tetapi tetap ada keberanian pada diri kita. Bagi orang yang tidak pernah bersalah, ia berani karena ia benar, dan ia takut karena ia salah.
Begitu juga dengan rasa takut. Rasa takut itu pasti akan mengganggu kehidupan seseorang. Ada saatnya kita takut dan ada saatnya kita berani. Kapankah kita takut? Di dalam Bahasa Arab, jika “khasya” adalah takut kepada Allah, sedangkan “khawfun” adalah takut kepada makhluk Allah. Seseorang itu lebih tepat untuk khasya dibandingkan khawfun. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan kita kepada hantu atau syaitan. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan akan terbongkarnya aib kita di dalam masyarakat. Ketika ada aib pada diri kita, kita lebih takut aib tersebut diketahui oleh orang lain dibandingkan kita takut kepada Allah.
Selain lima karakter tersebut di atas, maka ada karakter yang keenam, yaitu orang yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan. Inilah yang kita harapkan. Sehingga nilai keagamaan tersebut akan mewarnai kehidupan kita.
Jadi ada lima hal yang jangan sampai menjangkiti diri kita seperti tersebut di atas, yaitu rasa bersalah, dendam, takut, materi, dan aktualisasi diri yang berlebihan. Untuk mengobatinya adalah dengan cara kita harus kembali kepada Agama Islam sebagai pandangan hidup kita…

Pengertian Belajar


Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.[1] Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Penjelasan Definisi
• Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan saja.
• Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
• Perubahannya tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar. Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam potensi seseorang untuk berperilaku.
• Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
• Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa ganjaran yang diterima - hadiah atau hukuman - sebagai konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut.
• perasaan bangga dalam diri karna dapat mengerti dan paham akan apa yang di pelajari

Jumat, 08 Juli 2011

PRINSIP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH



Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah maupun di luar Sekolah.
Prinsip-prinsip itu adalah:
1.Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
2.Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
3.Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
4.Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
5.Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
6.Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.

Kamis, 07 Juli 2011

PENGEMBANGAN DIRI MELALUI LAYANAN KONSELING



1. Pengertian Konseling
Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.

2. Paradigma, Visi, dan Misi
a. Paradigma
Paradigma konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik.
b. Visi
Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.
c. Misi
1) Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan.
2) Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat.
3) Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.


3. Bidang Pelayanan Konseling

a. Pengembangan kehidupan pribadi.
yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
b. Pengembangan kehidupan social.
yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
c. Pengembangan kemampuan belajar.
yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.
d. Pengembangan karir.
yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

STRATEGI MEMBANGUN KELUARGA YANG BAHAGIA



Setiap orang pastilah ingin keluarganya bahagia. Menciptakan keluarga bahagia adalah harapan bagi banyak pasangan suami istri di dunia. Untuk itu dibutuhkan tekad dan keinginan bersama agar terbentuk sebuah keluarga yang bahagia.

Berikut adalah kiat-kiat tertentu dalam membina dan menciptakan sebuah keluarga yang berbahagia :
1.Jujurlah satu sama lain.
2.Dengarkan keluhan pasangan Anda dan anggap serius perasaannya
3.Bila ada ganjalan sebaiknya didiskusikan sehingga tidak menimbulkan kebencian.
4.Tunjukkan pada pasangan bahwa Anda mencintainya dan katakanlah “I love You” minimal sekali sehari.
5.Ciptakanlah waktu berdua saja tanpa diganggu oleh anak-anak. Jadualkan kegiatan berdua minimal setahun sekali.
6.Janganlah mengungkit-ungkit masa lalu dan belajarlah dari kesalahan.
7.Percayalah pada pasangan.
8.Bila Anda ragu atau curiga ungkapkanlah hal tersebut padanya.
9.Pada saat pasangan Anda berbicara, pandanglah wajahnya sehingga ia tahu kalau Anda memperhatikan ucapannya.
10.Saat bertengkar jagalah perkataan Anda ( jangan sampai mengatakan sesuatu yang akan disesali nantinya) dan berusahalah tetap tenang dan tidak terbawa emosi, berusahalah tetap duduk bersama.
11. Dan, Jagalah rahasia hubungan Anda berdua.

MEMBANGUN KOMUNIKASI YG EFEKTIF

MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF


Komunikasi efektif sangat layak anda perhitungkan dalam membangun karir anda. Dengan komunikasi yang baik tentunya akan mendukung segala aktifitas kerja yang kita lakukan. Apalagi bila pekerjaan kita melibatkan berbagai bentuk presentasi, rapa-rapat, lobi-lobi, penyuluhan dan lain-lainya. Bidang pekerjaan komunikasi seperti presenter dan sejenisnya sangat ditentukan oleh bagaimana cara kita berkomunikasi dalam menyampaikan sesuatu.

Banyak faktor yang dapat membuat apa yang akan kita sampaikan menjadi lebih berkualitas. Seperti kesiapan mental, penguasaan bahan, kelengkapan sarana pendukung serta hal-hal lainnya. Adakalanya anda merasa ‘nervous’ hingga untuk mengungkapkan sesuatu anda malah kehilangan percaya diri bahkan pembicaraan jadi berputar-putar.

Nah guna mempersiapkan diri lebih baik, tidak ada salahnya kita mempelajari tips-tips dasar dibawah ini :
1. Gunakan kalimat seefektif mungkin
Uraikan isi pembicaraan dengan kalimat efektif dan langsung mengena pada sasaran. Hindari mengungkapkan informasi detail yang kurang relevan, seperti, “Tadi sebelum menuju tempat ini saya bertemu family saya di suatu tempat….”. Biasanya lawan bicara anda tidak akan peduli dengan informasi yang tidak berhubungan dengan topik pembicaraan. Hindari penggunaan idiom bahasa yang kurang/tidak dimengerti calon pendengar anda. Dengan kata lain, kenali latar belakang calon pendengar anda.
2. Jangan mengungkapkan pengulangan ide/pokok bahasan
Jika anda ingin mengungkapkan ide, entah pada bos atau dalam suatu rapat, ketahui lebih dulu apakah ide tersebut sudah pernah diungkapkan oleh yang lain. Jika sudah, lebih baik anda tidak usah mengungkapkannya. Karena umumnya orang tidak akan tertarik mendengarkan pengulangan sebuah ide. Dalam presentasi suatu analisa, usahakan tidak terjadi pengulangan kalimat-kalimat yang merupakan teori ataupun kesimpulan. Aturlah urutan penyampaian agar lebih fokus saat menyampaikannya.
3. Jangan berbicara terlalu lambat
Tutur kata yang terlalu pelan dan lamban hanya akan membuat lawan bicara anda bosan dan tidak sabar. Lagipula gaya bicara anda yang terlalu pelan akan mengesankan anda ragu-ragu dan tidak percaya diri. Karena itu bicaralah dengan nada yang optimis dan penuh percaya diri.
Namun yang patut kita ingat, bukan berarti anda harus berbicara secara cepat tanpa ritme. Anda harus pandai menentukan ritme bicara, dimana harus berbicara dan dimana harus berhenti. Ritme yang tepat dalam berkomunikasi tentunya didapat setelah anda sering melakukan latihan/pengalaman orasi yang cukup.
4. Hindari gumaman yang terlalu sering
Gumaman yang terlalu sering hanya akan mengganggu pembicaraan anda. Lagipula lawan bicara anda akan merasa lelah menunggu kapan pembicaraan anda selesai. Sebisa mungkin minimalkan atau hilangkan gumaman seperti “ ehmmm…., eeee…., oooo…..”, dsb. Hal ini juga akan mengurangi respek calon pendengar anda, karena anda dinilai tidak menguasai materi pembicaraan.
5. Hindari humor yang tidak perlu
Melontarkan humor memang sah-sah saja untuk menyegarkan suasana. Namun, anda harus tanggap membaca suasana setelah anda mengungkapkan humor. Apakah lawan bicara anda benar-benar terpancing tertawa atau tertawa dengan terpaksa. Atau bahkan menunjukkan wajah yang terganggu dengan humor anda. Jika lawan bicara anda tidak tertarik dengan humor anda, teruskan pembiraan kembali. Jangan memaksa lawan bicara untuk mentertawakan humor anda yang telah gagal.
Dengan mempelajari dan melakukan tips diatas, anda dapat berkomunikasi secara lebih efektif sekaligus melatih diri anda menjadi pribadi yang efektif. Ingat keefektifan diperlukan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.

Rabu, 06 Juli 2011

TEORI KONSELING TRAIT & FACTOR

Konseling Trait & Factor


Menurut teori ini, kepribadian merupakan suatu system sifat atau factor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan,minat,sikap,dan tempramen.
Proses konseling dibagi dalam lima tahap sebagai berikut :
1.Tahap Analisis
Tahap kegiatan yang terdiri pengumpulan informasi dan data mengenai klien.
2.Tahap Sintesis
Langkah merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat, kekuatan, kelemahan dan kemampuan penyesuaian diri klien.
3.Tahap Diagnosis
Sebenarnya merupakan langkah pertama dalam bimbingan dan hendaknya dapat menemukan ketetapan yang dapat mengarah kepada permasalahan, sebab-sebabnya, sifat-sifat klien yang relevan dan berpengruh pada penyesuaian diri. Diagnosis meliputi :
1.Identifikasi masalah yang sifatnya deskriptif misalnya dengan menggunakan kategori Bordin dan Pepinsky
Kategori diagnosis Bordin
a. dependence (ketergantungan)
b. lack of information (kurangnya informasi)
c. self conflict (konflik diri)
d. choice anxiety (kecemasan dalam membuat pilihan)
Kategori diagnosis Pepinsky
a. lack of assurance (kurang dukungan)
b. lack of information (kurang informasi)
c. dependence (ketergantungan)
d. self conflict (konlflik diri)
2.Menentukan sebab-sebab, mencakup perhatian hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang dapat menerangkan sebab-sebab gejala. Konselor menggunakan intuisinya yang dicek oleh logika, oleh reaksi klien, oleh uji coba dari program kerja berdasarkan diagnosa sementara.
3.Prognosis yang sebenarnya terkandung didalam diagnosis misalnya diagnosisnya kurang cerdas pronosisnya menjadi kurang cerdas untuk pekerjaan sekolah yang sulit sehingga mungkin sekali gagal kalau ingin belajar menjadi dokter. Kalau klien belum sanggup berbuat demikian, maka Konselor bertanggung jawab dan membantu klien untuk mencapai tingkat pengambilan tanggung jawab. Untuk dirinya sendiri, yang berarti dia mampu dan mengerti secara logis, tetapi secara emosional belum mau menerima.
4.Tahap Konseling
Merupakan hubungan membantu klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber diluar dirinya, baik dilembaga, sekolah dan masyarakat dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitan ini ada lima jenis konseling adalah :
a.belajar terpimpin menuju pengertian diri
b.mendidik kembali atau mengajar kembali sesuai dengan kebutuhan individu sebagai alat untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya.
c.Bantuan pribadi dan Konselor, agar klien mengerti dan trampil dalam menggunakan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
d.Mencakup hubungan dan teknik yang bersifat menyembuhkan dan efektif.
e.Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran

5.Tahap Tindak Lanjut
Mencakup bantuan kepada klien dalam menghadapi maslaah baru dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan konsleing. Teknik yang digunakan harus disesuaikan dengan individualitas klien.
Teknik Konseling
1. Pengunaan hungan intim (Rapport), Konselor harus menerima konseli dalam hubungan yang hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam konseli.
2. Memperbaiki pemahaman diri, konseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatannya dalam upaya mengatasi kelemahannya. Penafsiran data dan diagnosis dilakukan bersama-sama dengan klien dan Konselor menunjukkan profil tes secara arif.
3. Pemberian nasehat dan perencanaan program kegiatan. Konselor mulai dari pilihan, tujuan, pandangan atau sikap Konselor dan kemudian menunjukkan data yang mendukung atau tidak mendukung dari hasil diagnosis. Penjelasan mengenai pemberian nasehat harus dipahami klien.
Tiga metode pemberian nasehat yang dapat digunakan oleh Konselor :
a. Nasehat langsung (direct advising), dimana Konselor secara terbuka dan jelas menyatakan pendapatnya.
b. Metode persuasif, dengna menunjukan pilihan yang pasti secara jelas.
c. Metode penjelasan, yang merupakan metode ynag paling dikehendaki dan memuaskan. Konselor secara hati-hati dan perlahan-lahan menjelaskan data diagnostic dan menunjukan kemungkinan situasi yang menuntut penggunaan potensi konseli.
d. Melaksanakan rencana, yaitu Konselor memberikan bantuan dalam menetapkan pilihan atau keputusan secara implementasinya.
4. menunjukkan kepada petugas lain (alih tangan) bila dirasa Konselor tidak dapat mengatasi masalah klien.

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK


Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Teori Behavioristik:
1.Mementingkan faktor lingkungan
2.Menekankan pada faktor bagian
3.Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
4.Sifatnya mekanis
5.Mementingkan masa lalu

BIMBINGAN KELOMPOK

Layanan Bimbingan Kelompok


A. PENGERTIAN
Pelayanan konseling dan bimbingan kelompok sama-sama menggunakan format kelompok.
Bimbingan kelompok adalah salah satu kegiatan layanan yang paling banyak dipakai karena lebih efektif. Banyak orang yang mendapatkan layanan sekaligus dalam satu waktu. Layanan ini juga sesuai dengan teori belajar karena mengandung aspek social yaitu belajar bersama. Peserta layanan akan berbagi ide dan saling mempengaruhi untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya.
150 orang menjadi 12 kelompok layanan yang hendaknya dilaksanakan oleh konselor sekolah.
Layanan Konseling kelompok ada 2 macam yaitu konseling dan bimingan kelompok. Yang sangat menentukan keefektifan layanan kelompok adalah suasana kelompok yang:
1.Interaksi yang dinamis
2.Keterikatan emosional
3.Penerimaan
4.Altruistik, mengutamakan kepedulian terhadap orang lain
5.Intelektual (rasional, cerdas dan kreatif). Menambah ilmu dan wawasan individu serta dapat menumbuhkan ide-ide cemerlang.
6.Katarsis (mengemukakan uneg-unegnya, idenya dan gagasannya). Menyatakan emosinya yang lebih mengarah pada pengungkapan pmasalah yang dipendam.
7.Empati (suasana yang saling memahami tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan sehingga dapat menyesuaikan sikapnya dengan tepat)

Hal ini diciptakan melalui pentahapan dan kemampuan pemimpin kelompok.
Perbedaan antara Bimbingan dan Konseling Kelompok umumnya adalah ada pada masalah yang dibahas. Masalah Bimbingan kelompok biasanya membahas masalah-masalah umum bagi peserta layanan. Jika suasana kelompok belum tercipta maka sulit bagi peserta layanan untuk mengungkapkan masalah pribadinya sehingga konseling kelompok agak sulit pelaksanaannya dibanding Bimbingan kelompok. Dari itu, Bimbingan kelompok sangat menentukan pelaksanaan konseling kelompok.

Pelaksanaan layanan dapat dilaksanakan dimana saja asal tidak mengganggu proses layanan dimana dinamika kelompok berlagsung maksimal dalam mencapai tujuan

Azas-azas Dalam Bimbingan dan Konseling

Ada 12 azas Bimbingan Konseling yaitu:
1.Kerahasiaan
Yaitu azas dimana Konselor wajib merahasiakan masalah yang dihadapai klien kepada siapapun, dan ini
merupakan kunci kepercayaan klien terhadap konselor.
2.Kesukarelaan,
Konselor dan klien melaksanakan proses BK secara sukarela.
3.Keterbukaan.
Keterbukaan klien untuk membahas masalahnya sangat menentukan bagi keberhasilan proses BK.
4.Kekinian.
Masalah yang ditangani oleh BK adalah masalah yang terjadi saat ini,meski mungkin ada kaitannya dengan
masa lalu.
5.Kemandirian.
Post dari proses BK adalah kemandirian klien utk dapat mengatasi masalahnya sendiri.
6.Kegiatan.
BK harus mendorong klien utk melakukan kegiatan yg mendukung bagi jalan keluar dari masalahnya.
7.Kedinamisan.
BK hendaknya bukan sekedar mampu memecahkan masalah tapi juga mampu membawa klien kepada
perubahan yg lebih baih.
8.Keterpaduan.
BK mampu memadukan berbagai aspek kepribadian klien.
9.Kenormatifan.
BK harus sesuai dengan norma yang berlaku, baik norma Agama, adat, hukum, ilmu maupun kebiasaan
sehari-hari.
10.Keahlian.
BK merupakan layanan profesional dan dilakukan oleh profesional pula.
11.Alih Tangan.
Jika Konselor sekolah belum mampu membantu penyelesaian masalah klien di karenakan sudah di luar
keahliannya, hendaknya klien di rujuh kepada pihak yang berkompeten.
12.Tur Wuri Handayani.
BK mampu memberikan rasa nyaman, keteladanan dan dorongan untuk maju.